Nomor berapa yang anda lihat...????September 22, 2008
September 19, 2008
Ten Dating Red Flags
When determining if you should let things get serious, remember: actions speak louder than words. With that being said, here are ten dating red flags. If you see any of these, do yourself a favor and reconsider if it's worth it for you.
1. You are not on the VIP list for breaking news
Were you the last to learn about this person's job promotion or newborn niece or nephew? Once things are serious, you should be among the first to know about exciting news, or bad news.
2. They avoid meeting your family or friends
If they are shying away from meeting your friends/family consistently, then there are problems. Even if they are very shy, they should want to meet those who are important to you.
3. They don't make any sacrifices
Healthy relationships don't require bending over backwards all the time, but a certain amount of sacrifice is necessary in a selfless union. When two of my friends first started dating one another, she demanded that he go to Farm Aid for her birthday, which was also the opening NFL football Sunday. While all the guys gathered to watch the games, he was sweltering on some field attending Farm Aid -- an event he never would have gone to if she hadn't have invited him. Now that's sacrifice.
4. They can't fit in your future
I admit it. When I meet girls, I envision future moments I may some day share with them. Most of my scenarios are her with me and my family at a Thanksgiving holiday or at a summer crabfeast. If I'm really into her, I usually relish the thought. If not, I kinda cringe.
5. They are too controlling
It's scary but I've seen many relationships where guys forbid girls to hang out with certain friends, or wear certain clothes. Major problem if someone is controlling you and not allowing you to be who you want to be within a relationship.
6. The "what are we" conversation fails miserably
Almost every relationship hits that crossroads where you both decide if it's worth taking the plunge into being exclusive and calling each other boyfriend/girlfriend. If they are confused and surprised that you're ready to get serious, the timing is not right, and you should try to figure out how long you want to wait around until they are ready.
7. They talk about plans that don't involve you
My sister has major wanderlust. She's always talking about heading off to Chicago or living in London for a year. She often talks about these things with no regard for the fact that she has a boyfriend at the time. If you find that someone is making plans or talking about far off places without inviting you along for the ride, don't let yourself get too into this person.
8. Your friends or family don't like them
Remember that your friends and family know you best. Don't take their thoughts with a grain of salt. It's one thing if a person or two don't get along with your significant other, but if a lot of them are saying you should reconsider, then do it. Unfortunately, we often find out about how much our friends hated that person after this person is gone.
9. They violated your trust
Whether it's cheating or a little lie that they got caught in, it will be hard to regain trust. Trust is something we don't give away easily, and once it's gone it's hard to get it back. We'll always be wondering about that lie, and doubt will creep in more and more as our minds fixate on that lie. Too often, people take trust for granted and once they lose it they never get it back.
10. You practice "unbalanced dating"
Are you always seeing his friends or doing things that he wants to do? Do you just let him pick the restaurants and events? Or is it the other way around? Relationships are fun when you are both able to contribute. If you're not taking turns creating fun times together, it will most likely fizzle out.
What would you add to the list? Ever been a victim of any of these red flags?
Softex..? Salah Satu Penyebab Kanker Rahim
Ternyata softex yang beredar di masyarakat sekarang ini ada yang mengandung zat pemutih di dalam pembalut tersebut sehingga pada saat anda memakai pantyliner yang mengandung zat pemutih yang berlebihan, maka zat tersebut akan masuk ke dalam ovarium dan menyebabkan kanker rahim.
Untuk mengetahui pembalut mana yang baik (zat pemutih yang sedikit) dan tidak baik (zat pemutih yang berlebihan), yayasan tersebut menawarkan cara yaitu:
1. Sediakan air putih (disarankan aqua)
2. Softex / Pantyliner
Caranya:
Kapas yang ada di dalam pembalut / pantyliner dikeluarkan dan ambil sedikit.
Lalu, masukkan kapas tersebut di dalam air aqua.
Perhatikan apakah air menjadi keruh atau tidak.
Apabila hasil yang didapat adalah airnya keruh, maka pembalut tersebut mempunyai kadar zat pemutih yang tinggi.
Dan sebaliknya..
September 15, 2008
Andy F. Noya keluar dari Metro TV
Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.
Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. ''Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.''
Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.
Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya 'dipindahkan' oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.
Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.
Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.
Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul 'Lentera Jiwa' yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa 'lentera jiwanya' ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.
Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.
Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008),>> kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. ''Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,'' ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.
Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.
Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.
Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.
Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. ''Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,'' ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. ''Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya,'' katanya.
Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.
September 02, 2008
PM Jepang Mnegundurkan diri...?? WHY..??
Hmm.... Ini hanya opini saya tentang manusia Jepang..
Yang saya tahu dari ayah saya bahwa, orang Jepang adalah orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan yang dijalaninya (mungkin ga semua orang Jepang seperti ini ya...hehe..).
Tetapi, tabiat ataupun sikap orang jepang adalah menyelesaikan suatu persoalan sampai selesai, jikalau orang tersebut tidak dapat menyelesaikan dengan baik atau katakan tidak dapat diselesaikan oleh orang tersebut, maka orang yang berada pada suatu jabatan akan mengundurkan diri dari jabatan yang ia pegang.
Ini menandakan bahwa orang Jepang mempunyai kesadaran diri yang tinggi tidak seperti orang lain yang ada di dunia ini.
Nah..apa alasannya PM Jepang mengundurkan diri?
Ini dikarenakan bahwa beliau tidak mau membuat masalah menjadi rumit.
Untuk menghindari keadaan yang makin sulit dalam menghadapi sesi khusus parlemen pada waktu dekat ini. Sebab, berbagai usulan pemerintah di parlemen selalu mendapat penolakan dari kubu oposisi, sehingga telah menyulitkannya untuk menjalankan kebijakan-kebijakannya.
PM Jepang : "Saya merasa bahwa kita harus memberi tekanan khusus pada kepentingan ekonomi," kata Fukuda dalam sebuah pernyataan di televisi nasional. Jika ini membantu, meski sekecil apapun agar sesi parlemen berjalan lebih mulus, saya memutuskan bahwa lebih baik orang lain memimpin (Jepang) daripada saya."