Thirty-two students kept diaries of how much sleep thet got and which foods they ate over a three-week period.The second week, they were asked to sleep an extra two hours a day.
And, the third week, they went back to their normal routines.
Thirty-two students kept diaries of how much sleep thet got and which foods they ate over a three-week period.
Flu season is all year round in Asia, so it's good news that a new flu vaccine has hit the market. Fluarix provides protection against the three new strains of the bug identified by the World Health Organization (WHO) as being most likely to cause flu this year.
Peneliti planet Mars yang tergabung dalam misi wahana tak berawak, Phoenix Mars Lander, belum lama ini menemukan senyawa perklorat di tanah Planet Merah. Ini menunjukkan bahwa Mars secara umum sulit mendukung kehidupan. Temuan ini tentu saja membuat para peneliti sedikit kecewa lantaran menganggap bahwa Mars mampu menopang kehidupan kini pupus. Perklorat, salah satu unsure yang terkandung dalam bahan bakar roket, itu terdeteksi saat Phoenix melakukan analisa kimia dengan instrument Electrochemistry and Conductivity Analyzer (MECA).
Di kawasan tersebut ditemukan sumber perklorat yang terbentuk secara alami dan dihuni oleh mikroba ekstrem yang menggunakannya sebagai sumber energy. Berdasarkan data badan pengendali lingkungan (EPA), perklorat bersifat racun yang dapat memengaruhi fungsi kelenjar thyroid dan mengganggu pertumbuhan bayi.
Temuan ini sekaligus menggugurkan analisis MECA pertma yang mengindikasikan adanya kemiripan antara tanah Mars dan tanah di bumi, termasuk pH yang menentukan kandungan mineral. “Analisis pertama menunjukkan tanah Mars mempunyai kesamaan dengan planet bumi. Analisis berikutnya menunjukkan adanya zat kimia di tanah Mars,”papar penyelidik utama Phoenix Peter Smith.
Hal sedikit berbeda disampaikan ilmuan dari Pusat Penelitian Ames milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) Richard Quinn. Dia mengungkapkan, meski mengandung perklorat, bukan berarti Mars sama sekali tidak dapat menopang kehidupan. “Kita tahu bahwa mikroba dapat hidup dengan baik dalam kondisi yang mudah terjadi oksidasi. Senyawa reaktif yang sangat mudah teroksidasi itu tidak selamanya membahayakan makhluk hidup,” kata dia.
Meski temuan perklorat cukup mengejutkan, para ilmuan tetap akan melanjutkan penelitian lebih lanjut terhadap kandungan planet Mars. Pada penelitian awal, ilmuan sempat menemukan jejak es. Ini menandakan bahwa planet berjarak 680 juta kilometer dari bumi itu memiliki kandungan mineral. Guna manjawab berbagai misteri yang belum terungkap, para ilmuan memperpanjang misi di Mars hingga 30 September mendatang.
Apalagi, semua instrument pendukung masih berfungsi dengan baik. Misi Phoenix sendiri sebelumnya hanya dicanangkan selama tiga bulan, yakni hingga akhir Agustus. Misi seharga USD 420 juta ini dikembangkan atas kerja sama NASA dan University of Arizona. Misi yang diluncurkan pada Agustus 2007 itu untuk menindaklanjuti wahana ruang angkasa Odyssey, yang pada 2002 merekam kemungkinan adanya kandungan es.
University of Pennsylvania researchers have used gene therapy to reduce the time it takes to breed large animals capable of producing therapeutic proteins in their milk, such as insulin or those that fight cancer. This represents a significant milestone in drug development, as current methods involve cloning, which takes more time and generally costs more.The study also is significant because it may also be a new way to eliminate diseases in future generations of animals, such as those used for livestock. Here's why: To get the goats to produce specific proteins, the researchers used radiation to kill a portion of a male goat's germ cells (the cells that produce sperm). Then they used a modified adeno-associated virus (a well studied and tolerated gene therapy vector) to insert a gene in the remaining cells. Once the new gene took hold in the germ cells, a predictable number of offspring carried the gene necessary to produce the desired protein in their milk.
The advance is immediately valuable for pharmaceutical development and biology research, but a similar approach could be used to bolster the food supply by eliminating genetic disorders in animals over several generations. It is also possible that once perfected, this technique could eliminate disease genes in humans over several generations, assuming ethical concerns can be resolved adequately.
This study is published in the February 2008 print edition of The FASEB Journal.
"For thousands of years, people have domesticated cows and goats to make milk, butter and cheese. And for thousands of years dairy products have been used as folk remedies for practically every human illness. Most have been completely ineffective." said Gerald Weissmann, MD, editor-in-chief of The FASEB Journal. "So it is reassuring that modern science would find a way to use the milk we drink to yield of drugs that actually work."
img: Researchers have used gene therapy to reduce the time it takes to breed goats capable of producing therapeutic proteins in their milk, such as insulin or those that fight cancer.
Penemuan salah satu bagian dari keseluruhan kerangka yang diindikasikan sebagai fosil buaya purbakala semakin memperkuat hipotesa bahwa kelompok buaya yang pertama berasal dari Afrika sebelum bermigrasi ke Amerika Selatan dan menyebar ke seluruh perairan Amerika.Menurut Alexander Kellner dari Museum Nasional Universitas Rio De Janeiro, fosil yang meliputi tulang tengkorak, tulang rahang dan tulang belakang merupakan bentuk terlengkap dari marine corcodylomorphs yang ditemukan di Pernambuco, timur laut Brazil. Para ilmuwan telah menemukan sejumlah species purbakala buaya dalam beberapa tahun terakhir.
University of Washington biologists have found that 4-day-old sand dollar larvae created clones of themselves within 24 hours of being exposed to fish mucous, a cue that predators are near. In each case, the cloning process resulted in a small new larva and the original larva substantially smaller than it had been.
The larvae responded to the general threat of predation rather than the immediate possibility of predator attack, said Dawn Vaughn, a UW biology doctoral student at the University of Washington's Friday Harbor Laboratories. The process caused the original larvae to shrink from about 300 microns, or about a hundredth of an inch, to about half that size, and the new larvae were even smaller.
"We think that by reducing their size they also reduce their visibility to predators," said Vaughn, who is lead author of a paper describing the work in the March 14 edition of Science.
Larval cloning has been observed previously among echinoderms, which include about 7,000 species of sea creatures, including starfish, sea urchins and sand dollars. However, this is the first time cloning by larvae has been seen as a survival mechanism in the face of possible predation.
The larvae of the sand dollar species Dendraster excentricus float as part of the plankton at various levels in open water, feeding as they slowly grow. After six weeks, the larvae reach a size of perhaps a three-hundredths of an inch and then settle to the ocean floor to finish developing to adulthood.
But as they float, the larvae are neither fast nor agile and have a high mortality rate, easily devoured by fish. Vaughn exposed 4-day-old larvae to fish mucous to see how they might react to the threat of predation.
"We didn't know how they would respond, or even whether they would respond," she said.
Within 24 hours, the larvae developed clone buds that ultimately detached and formed new larvae that were much smaller than the original organism. The original larvae also were substantially reduced, to about half their original size.
Larvae that were not exposed to fish mucous did not clone themselves.
Vaughn suggests that cloning might be an adaptive response for the organism to try to ensure its survival in some form if a predator strikes. That is accomplished if only one of the two larvae that result from cloning survives.
"From their perspective, if both the original larva and the clone survive that's great -- then there are two of you," she said.
Vaughn noted that reduced size because of cloning could affect survival later in the sand dollar's life. In many species, greater size reduces the chances of predation, and sand dollars that have gone through the larval cloning process turn out to be smaller than non-clones when they settle to the sea floor. It is not yet clear whether that makes them more vulnerable to predators at that point, though she plans to examine that in the next stage of her research.
"At this point we would suggest that might be the trade off. But if they don't avoid predation in the first place they would never get to the sea floor," she said.
Richard Strathmann, a UW biology professor and Vaughn's doctoral adviser, is co-author of the paper. The work was funded by the National Science Foundation and Friday Harbor Laboratories.
Vaughn noted that the larval sand dollars' response did not appear to depend on the species of fish that generated the mucous. Instead, it appears the larvae reacted to the bacterial breakdown of the mucous, and interpreted that as the presence of a potential predator.
"They might respond to a fish species that would not eat them," she added.Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
INGIN anak Anda cemerlang di sekolah? Cobalah untuk memperhatikan dengan jeli kebutuhan gizi dan nutrisi mereka setiap hari. Selain itu, ada baiknya pula memasukan 10 jenis makanan terbaik berikut ini. Makanan yang dijuluki "Brain Food" ini diyakini dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak, memperbaiki fungsinya, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi berpikir anak-anak. 
Tes genetika memastikan burung yang memiliki panjang sekitar 12 centimeter dan berat 14 gram itu memiliki keunikan dibanding spesies burung sejenis. Tim peneliti dari Institut Smithsonian yang menemukan burung tersebut melaporkannya dalam jurnal Zootaxa terbaru.



Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya lakudijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
Senyawa Yang Terkandung dalam Teh Hijau & Manfaatnya bagi Kesehatan
1. Cathecin
Mencegah Tumor / Kanker
Mengurangi Mutasi Genetik
Mengurangi Oksidasi Oksigen Bebas
Menurunkan Kolesterol
Mengontrol naiknya tekanan darah
Anti mikroba
Menonaktifkan virus influensa
Mencegah Halistosis (bau mulut)
2. Kafeine / Tehine
Merangsang Kesadaran
Sebagai Diuretik (memperlancar pengeluaran air seni)
3. Flavonoid
Memperkuat dinding pembuluh darah
Mencegah Halistosis (bau mulut)
4. Fluoride (F)
Pertumbuhan gigi
Mencegah Karies pada gigi
5. Mangan (Mn)
CO-Ensim metabolisme gula
6. Vitamin C
Mengurangi Stress
Mencegah Flu
7. Vitamin E
Memperlambat proses penuaan

